Biar
belajar pada guru nyanyi paling hebat di ujung langit, kalau memang tidak punya
bakat, siapa pun tidak bakal bisa diubah jadi pandai menyanyi. Untuk jadi
penyanyi orang harus punya bakat menyanyi. Kemampuan seseorang yang memiliki
bakat itu bisa dikembangkan menjadi optimal kalau dibantu dengan penguasaan
teori dan teknik menyanyi.
Begitu
juga dalam menulis skenario film. Kalau ingin menjadi penulis skenario,
seseorang harus lebih dulu punya bakat mengarang.
Tapi
ada yang berpendapat bahwa untuk bisa menulis skenario tidak diperlukan
tambahan pengetahuan teknik penulisan skenario atau teori tetek-bengeknya.
Buktinya banyak penulis skenario yang hebat di Indonesia tanpa harus
repot-repot menulis ini itu.
Cerita
dan Skenario
Skenario adalah desain penyampaian cerita atau gagasan
dengan media film. Cerita aslinya mungkin adalah karya tulis, entah berupa
cerita pendek atau novel. Orang yang membaca karya tulis tersebut akan memahami
cerita dan menikmati keindahannya dari susunan kata-kata dan membayangkan
kejadiannya sebagaimana yang dilambangkan dengan kata-kata. Begitu dia membaca
kata hujan, maka pembaca akan membayangkan air yang berjatuhan dari langit.
Kalau novel menyebutkan bahwa istrinya meninggalkan rumah pada malam hari
dengan mengendari taksi, maka penonton akan membayankan dalam khayalannya
bagaimana istri itu berjalan meninggalkan rumah, dalam keadaan ketakutan, naik
taksi, dan sebagainya. Adapun penulis skenario menuliskan ceritanya secara
filmik, sebagaimana akan nampak di layar putih. Dalam skenario penuturannya
menggunakan Media Gambar dan Media Suara.
Karena perbadaan bahasa yang digunakan, maka besar
kemungkinan bahwa cerita yang sama akan berbeda dalam penyugguhannya. Mungkin
bagian tengah novel akan dituturkan sebagai pendahuluan skenario. Karena bagian
itu bisa menjadi adegan yang sangat menarik dalam penyajian film sebagai
penarik perhatian penonton. Film bisa menggambarkan adegan itu shot-shot yang bergerak dinamis, SUARA
yang merangsang ketegangan, editing yang mencampur adegan menjadi lebih
mendebarkan dan sebagainya.
Uraian mengenai skenario ini akan kita bicarakan lebih
jauh nanti, setelah kita bicaran arti cerita untuk film.
Tidak semua jenis cerita cocok untuk dibikin novel.
Mungkin suatu cerita bagusnya dijadikan cerita pendek, atau mungkin juga
sebagai novelet. Karena ada persyaratan tertentu agar cerita bisa dan bagus
diubah menjadi novel atau lainnya. Demikian pula halnya dengan cerita film.
Tidak semua cerita bisa dan bagus menjadi cerita untuk difilmkan.